Emas Siap Bangkit Setelah Terjungkal 3 Pekan

Sumber Gambar: Bloomberg Technoz
Pemulihan Emas di Ujung Tanduk
Webnity Id, Jawa Tengah - Setelah mengalami penurunan selama tiga pekan berturut-turut, pasar emas menunjukkan sinyal pemulihan di pekan depan, dipicu oleh potensi pelonggaran kebijakan moneter global dan kembali meningkatnya ketegangan geopolitik.
Harga emas spot sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir, dengan penurunan akumulatif sebesar 2,7% sepanjang tiga pekan lalu. Namun, analis memperkirakan momentum bearish ini akan berakhir, seiring dengan perubahan sentimen pasar.
Sentimen Pasar Mulai Berbalik
Berdasarkan data dari Bloomberg Technoz (sumber), para pelaku pasar mulai memprediksi kenaikan harga emas di rentang USD 1.980–USD 2.050 per troy ounce pada minggu mendatang.
Beberapa faktor utama yang mendukung rebound termasuk:
- Ekspektasi The Federal Reserve akan menahan kenaikan suku bunga di bulan depan.
- Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan, meredam tekanan hawkish.
- Pelemahan dolar AS, yang membuat emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
"Penurunan emas dalam tiga pekan terakhir justru menciptakan peluang akumulasi bagi investor jangka panjang," kata Maria Siregar, analis pasar komoditas dari PT Mitra Analitika Global.
Ketegangan Geopolitik Jadi Katalis Kuat
Ketegangan antara Israel dan Hamas terus memanas, sementara ketidakstabilan di wilayah Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda reda. Faktor-faktor ini meningkatkan permintaan safe-haven terhadap emas.
Bank sentral negara berkembang, seperti Tiongkok dan Turki, juga dikabarkan kembali gencar membeli emas dalam beberapa minggu terakhir. Data dari Dewan Emas Dunia (World Gold Council) menunjukkan pembelian resmi naik 12% secara tahunan di kuartal ketiga 2023.
| Indikator | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Harga Emas Spot (26 Okt) | USD 1.970/oz | Kitco |
| Cadangan Emas Global (Q3-2023) | +12% YoY | WGC |
| Imbal Hasil Obligasi AS 10-tahun | 4,82% | Bloomberg |
Proyeksi Jangka Panjang Tetap Bullish
Meski volatilitas masih tinggi, proyeksi jangka panjang terhadap emas tetap optimistis. Lembaga keuangan global seperti JPMorgan dan Goldman Sachs memperkirakan harga emas bisa mencapai USD 2.100 pada akhir 2023 dan tembus USD 2.300 pada 2024.
Faktor pendukung jangka panjang meliputi:
- Siklus penurunan suku bunga yang diprediksi dimulai pertengahan 2024.
- Risiko resesi global yang masih mengintai.
- Diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral menuju aset non-dolar.
- Permintaan fisik dari Asia, khususnya India dan Tiongkok, mendekati musim festival dan Tahun Baru Imlek.
"Emas bukan sekadar komoditas, tapi simbol perlindungan terhadap ketidakpastian. Dan dunia sedang penuh ketidakpastian," pungkas Maria.




