Emas Melemah Setelah AS-Iran Tunda Perundingan Damai

Sumber Gambar: Bloomberg Technoz
Gejolak Harga Emas Global
Webnity Id, Jawa Tengah - Harga emas kembali melemah pada perdagangan Selasa (9/4), menyusul kabar bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran resmi ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Ketegangan geopolitik yang sempat memicu kenaikan permintaan aset safe-haven kini mereda, sehingga investor kembali mengalihkan perhatian ke instrumen berisiko lebih tinggi.
Dampak Penundaan Diplomasi AS-Iran
Penundaan ini diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS, yang menyebut bahwa kondisi saat ini belum memungkinkan untuk melakukan perundingan substantif terkait program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi ekonomi. Pasar bereaksi cepat terhadap pernyataan tersebut, dengan harga kontrak emas Comex untuk pengiriman Juni 2024 turun 1.7% menjadi USD 2,318 per ons troi.
"Investor melihat situasi sebagai tanda peredaan ketegangan jangka pendek," ujar Dina Permata, analis pasar dari PT Graha Sekuritas Indonesia. "Meskipun risiko geopolitik masih ada, sentimen risk-on kembali mendominasi, terutama di tengah optimisme terhadap data ekonomi AS yang stabil."
Respons Pasar Global
Sebagai aset lindung nilai, emas kerap menguat saat ketegangan geopolitik meningkat. Namun, keputusan penundaan diplomatik kali ini malah menciptakan efek sebaliknya. Indeks dolar AS (DXY) menguat 0.4% ke level 105.12, sembari imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke 4.21%, membuat aset non-berbunga seperti emas kurang menarik.
Berikut adalah pergerakan harga logam mulia utama pada perdagangan terakhir:
| Logam | Harga (per ons troi) | Perubahan Harian |
|---|---|---|
| Emas | USD 2,318 | -1.7% |
| Perak | USD 25.10 | -2.1% |
| Paladium | USD 988 | -1.3% |
| Platinum | USD 1,034 | -1.5% |
Sementara itu, pasar minyak mentah juga terkoreksi. Harga minyak Brent turun 1.2% menjadi USD 86.40 per barel, mencerminkan kekhawatiran berkurangnya potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Outlook dan Rekomendasi Pasar
Meski harga emas melemah, beberapa analis memperkirakan volatilitas masih akan terus terjadi dalam jangka menengah. "Konflik di Timur Tengah, termasuk situasi di Gaza dan aktivitas maritim di Selat Hormuz, tetap menjadi risiko laten," komentar Ahmad Rizal, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Ia menambahkan, kebijakan moneter The Fed juga akan menjadi penentu utama arah emas ke depan. Dengan data inflasi AS yang masih di atas target, kenaikan suku bunga lebih lanjut tidak bisa diabaikan, yang akan terus menekan harga emas.
Beberapa rekomendasi dari pelaku pasar:
- Investor jangka panjang disarankan mempertahankan alokasi emas sebesar 10–15% dari portofolio.
- Pemantauan ketat terhadap perkembangan diplomatik AS-Iran dan kebijakan The Fed.
- Emas fisik dan ETF emas tetap relevan sebagai lindung nilai jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian global yang masih menggantung, logam kuning diprediksi akan kembali menjadi primadona saat gejolak politik benar-benar mencapai puncaknya.




