Bitcoin Terjungkal, Pemulihan ke Rp1,14 M Masih Rapuh

Sumber Gambar: Bloomberg Technoz
Pemulihan Singkat Bitcoin Gagal Bertahan
Webnity Id, Jawa Tengah - Setelah sempat menyentuh harga Rp1,14 miliar per koin pada pekan lalu, Bitcoin kembali mengalami koreksi tajam, menunjukkan bahwa pemulihan terakhir belum menunjukkan sinyal keberlanjutan. Aset kripto terbesar dunia tersebut terpantau terjungkal hingga di bawah Rp1,08 miliar pada perdagangan Selasa (9/4), menurut data dari Bloomberg Technoz dan platform lokal seperti Pintu dan Indodax.
Pergerakan harga Bitcoin kali ini mencerminkan keraguan pasar terhadap stabilitas pemulihan setelah kenaikan signifikan yang dipicu oleh faktor eksternal, termasuk ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve dan pembelian aset oleh perusahaan institusional.
Katalis Pemulihan yang Tidak Bertahan
Pada awal April 2024, Bitcoin berhasil rebound dari level Rp960 juta berkat kombinasi faktor:
- Data inflasi AS yang melambat, memperkuat harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertengahan tahun ini.
- Pembelian Bitcoin senilai $500 juta oleh firma hedge fund asal AS, Skybridge Capital, dipandang sebagai sinyal positif dari institusi besar.
- Arus masuk ke ETF Bitcoin di pasar Amerika Serikat yang tembus $12 miliar sejak peluncuran Januari lalu.
Namun, sentimen positif ini pudar setelah laporan upah non-pertanian (NFP) dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat, mengurangi urgensi pelonggaran moneter. Hal ini memicu koreksi di pasar keuangan global, termasuk pasar kripto.
Tekanan Jual dan Aksi Ambil Untung
Menurut analis pasar dari CryptoQuant Indonesia, Dini Wulandari, koreksi Bitcoin kali ini didorong oleh kombinasi aksi ambil untung (profit-taking) dari investor jangka pendek dan keluarnya likuiditas dari pasar derivatif.
"Setelah kenaikan cepat, banyak posisi long di kontrak berjangka yang di-likuidasi saat harga mulai turun. Ini memperparah tekanan jual," jelas Dini.
Berikut adalah ringkasan pergerakan harga Bitcoin selama seminggu terakhir (dalam Rupiah):
| Tanggal | Harga (Rp) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| 2 April 2024 | 960 juta | +2,1% |
| 5 April 2024 | 1,14 miliar | +18,7% |
| 8 April 2024 | 1,08 miliar | -5,3% |
| 9 April 2024 | 1,065 miliar | -1,4% |
Sumber: Bloomberg Technoz, Pintu, Indodax
Outlook: Waspadai Rentang Sideways
Pasar kripto saat ini berada dalam fase konsolidasi, dengan Bitcoin kemungkinan bergerak sideway antara Rp950 juta hingga Rp1,15 miliar dalam jangka pendek. Menurut laporan Chainalysis, volume perdagangan spot menurun 23% dalam sepekan, sementara open interest di pasar futures turun 12%, menandakan minat spekulatif mulai mereda.
"Level support kunci berada di Rp980 juta. Jika tembus, maka risiko penurunan ke Rp920 juta terbuka lebar," kata Muhammad Rizki, analis dari TradeKripto.
Namun, beberapa sentimen jangka panjang masih mendukung, seperti:
- Antisipasi halving Bitcoin 2024 yang akan terjadi pada April akhir, yang secara historis diikuti oleh kenaikan harga 6–12 bulan kemudian.
- Minat institusi global yang terus meningkat terhadap aset kripto sebagai lindung nilai inflasi.
- Penetrasi pasar kripto di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tumbuh 35% secara tahunan menurut data Statista.
Kesimpulan Pasar: Ketahanan Masih Dipertanyakan
Meskipun terdapat katalis fundamental yang mendukung, pergerakan harga Bitcoin belakangan ini menunjukkan bahwa pasar masih rentan terhadap sentimen makroekonomi. Pemulihan ke level Rp1,14 miliar terbukti belum solid, dan investor disarankan untuk tetap waspada serta mengelola risiko secara ketat.
"Ini bukan akhir dari tren bullish, tapi ujian terhadap ketahanan pasar menjelang halving," pungkas Dini Wulandari.




